Kepergian yang tak terencanakan
Rasanya sudah biasa melihat laki-laki di depan meja mbak Put itu turun terlambat. Sudah biasa melihatnya membuka pintu di pukul delapan lewat atau malah sudah ke pukul sembilan. Sudah biasa pula mungkin ia tak masuk sama sekali seharian karena sesuatu dan lain hal. Tapi rasanya aneh, jika pada akhirnya mendengar kalau ia tak lagi duduk di kursi singgasananya yang hanya dia yang bisa bersender tanpa takut terjatuh. Tak lagi membuka pintu di jam-jam biasanya. Dan tak hanya soal sehari ia tak masuk, namun selamanya. Lima tahun berlalu sejak kau datang ke sini sebagai murid lulusan SMA. Datang kaku membawa kertas lamaran. Rio. Itu nama pertama yang ku kenali setelah pada akhirnya aku menyadari bahwa namanya Mario Ri Arasy dengan pengucapan huruf "r" yang terdengar berat. Siapa sangka lima tahun berjalan terciptalah rasa kekeluargaan ini. Yang tanpa di sadari hadir. Dan aku tidak akan tau jika pada akhirnya kepergian mu akan memberikan rasa sesak, sedih dan segala rasa yang tak mungkin terungkapkan. Bukan hanya aku. Mungkin keluarga besar kantor lantai dua ini juga merasakannya. Lima tahun bukan sesuatu yang sebentar. Cukup untuk mengenal tiap-tiap karakter. Saling menerima kekurangan masing-masing. Dan saling membantu dengan kelebihan masing-masing. Senang, Suka, Duka, Marah dan Kekesalan sudah pernah di lewati. Ah mereka bukan apa-apa. Karena kebersamaan pada akhirnya mengalahkan semua. Akhir cerita, skenario Allah adalah yang terbaik. Pilihanmu juga karena ada andil Allah yang menggerakkan hati untuk memilih. Karena tiap-tiap kejadian merupakan atas Ijin-Nya. Ini mungkin jalan rezeki yang tak di sangka. Ini mungkin sebuah gebrakan dari-Nya untuk meninggalkan zona nyaman. Dengan tempat baru dan kisah yang baru. Do'a terbaik terpanjat untukmu, duhai teman rasa keluarga. #atom
Komentar
Posting Komentar