Untitle

Kunjungi saja, aku berusaha untuk tak malu.
Membiarkan semua terasa biasa.
Agar tak begitu banyak ku taruh hati.
Yang nantinya hanya berujung pada kekosongan.
Bagaimana tidak, aku bertaruh seluruhnya.
Lupa menyisakan sedikit.
Ketika aku kalah, habislah!

Dulu, ingat sekali.
Saat itu, rajin kali aku beruntai puisi.
Sesuai dengan suasana hatiku.
Namun, sejak saat kau membatasiku.
Membatasi seluruh gerakku.
Aku kehilangan kata.
Kehilangan rasa.
Soal bagaimana aku menyajikan kata.
Soal bagaimana aku menjabarkan sedihku, dukaku, gembiraku.
Ah, sang pembatas lari.
Menyisakan aku yang terbiasa membatasi diri.
Lantas aku harus memulai lagi.
Tentang merobohkan pembatas ini.
Sulit sekali. Sempat aku jadi bukan aku.
Bukan pula dia. Yang jelas aku tak mengenal lagi.

Sempat tergores tangan ini. Mengucur deras yang di sebut orang-orang itu darah.
Namun aneh, rasanya tidak sakit.
Sudah kebal kata temanku.

Aku belajar lagi.
Mencoba menemukan diriku yang dulu.
Meski harus membuka berlaci-laci arsip tentang diriku.
Semoga ini tak memakan waktu lama.
Karna aku sudah sangat rindu.
Soal diriku yang tlah lama menghilang.

INS

Komentar

Postingan Populer