Sudut Pandang Ayah
Siang hari, di tengah terik cahaya. Haus dan lapar menjadi satu. Aku mengajakmu ke warung makan. Makan mie kesukaanmu. Makan, nak.! Aku memesan satu mangkuk mie dan air putih. Mie untuknya. Dan air putih untukku. Aku berulang kali mengusap wajahku. Menutupi sesuatu. Aku menatapnya. Anakku telah tumbuh dewasa. Gadis yang cantik dan amat ku sayangi.
Ia pergi keluar sebentar dan meninggalkan semangkuk mie yang masih berisi. "Sudah" ujarnya. Aku pelan-pelan mengeluarkan bungkus nasi yang telah ku siapkan. Ku patah sedikit demi sedikit gumpalan nasi tersebut. Dengan cepat. Harus dengan cepat. Agar anakku tak melihatnya. Aku makan dengan lahap dengan sangat cepat. Antara lapar dan juga kegugupanku. Sebelum anakku datang dan memergokiku dalam keadaan seperti ini. Sambil aku makan, pandanganku mengitar. Berjaga-jaga. Dia di sana. Melihatku. Dengan sedih. Oh tidak. Aku tertangkap. Lantas aku mencoba memasang raut wajah terbaik. Menahan tangis. Ia menangis. Sedih. Mendapati ayahnya seperti ini. Ah tidak nak!. Jangan menangis!. Ayah!! maafkan aku, ujarnya. Bersedih atas pengorbanan seorang ayah untuknya. Untuk kebahagiannya.
Komentar
Posting Komentar